No one can make you feel inferior without your consent. – Eleanor Roosevelt –

 

Ketika menemukan kutipan dari Eleanor Rosevelt di atas, saya langsung teringat dengan teman saya yang begitu mudah tersinggung. Sebut saja namanya Rani. Sifatnya yang mudah sekali tersinggung ini seringkali menyeret dia dalam konflik-konflik personal.

 

Pernah suatu hari dia sangat tersinggung dan langsung ‘mendamprat’ temannya karena memanggilnya dengan sebutan “tante”. Padahal kata-kata itu muncul dalam konteks bercanda. Di lain hari, dia berkonflik dengan atasannya hanya karena ditegur setelah beberapa kali terlambat datang ke kantor. Atas teguran itu dia merasa dianggap malas dan tidak bisa kerja. Padahal bukan itu maksud sang atasan. Karena sakit hati, dia tidak masuk kantor beberapa hari dengan alasan sakit. Dia ingin membuktikan kepada atasannya bahwa tanpa dia, tim tidak akan dapat bekerja dengan baik.

 

Karena begitu seringnya hal seperti ini terjadi, rekan-rekan setimnya menjadi sangat hati-hati berhubungan dengan dia, bahkan cenderung menjauhi. Hal ini membuat Rani merasa semakin terasing dan selalu berfikir negatif. Setiap teman-temannya bercanda, dalam pikiran dia selalu muncul kata-kata “jangan-jangan mereka menertawai aku”. Setelah itu muncullah gambar-gambar buruk dikepalanya dimana dia digunjingkan dan ditertawakan. Maka, semakin bertambahlah rasa benci terhadap teman-temannya.

 

Karena kebencian kian menumpuk hingga menjadi dendam, suatu hari dia melakukan tindakan bodoh. Dia mengirimkan surat kaleng kepada dewan direksi dan menyebut rekan-rekan satu timnya adalah kumpulan pelawak yang kerjanya setiap hari hanya bercanda. Dia bahkan memfitnah atasannya telah menjual data-data konfidensial perusahaan. Dan karena ulahnya itu, akhirnya atasan yang selalu melindungi dan membimbingnya itu diberhentikan. Tim tempat dia bekerja pun dibubarkan.

 

“Apa yang sebetulnya membuat kita begitu mudah sakit hati?”. Seringkali hanya karena teman yang bercanda, kita tersinggung. Tidak jarang juga perdebatan di ruang meeting terbawa hingga urusan pribadi karena kita merasa direndahkan saat adu argumentasi.

 

Hal ini terjadi karena MAKNA yang kita berikan terhadap situasi yang kita alami atau kata-kata yang kita terima dari orang lain. Makna terhadap suatu peristiwa atau kata-kata yang cenderung negatif akan melukai identitas diri. Padahal mungkin orang yang berbicara dengan kita tidak mempunyai maksud demikian. Kegemaran memberikan “makna” secara subjektif ini mengakibatkan terjadinya distorsi atas semua peristiwa yang kita alami. Dan bahayanya, distorsi makna di kepala kita itulah yang kita anggap sebagai sebuah kenyataan. Akibatnya, kita tidak memandang dunia apa adanya, tapi berdasarkan persepsi.

 

Betapa menderitanya hidup kita bila ternyata distorsi negatif itulah yang bersarang menetap bertahun-tahun di kepala. Mana bisa tenang hidup ini?

 

Sebagai contoh, ketika ada orang yang mengatakan “begitu saja kamu tidak bisa sih”, secara subjektif ada beberapa orang yang memaknainya “bodoh banget sih kamu”. Dengan pemaknaan seperti ini, tentu saja hati menjadi terluka karena hal ini dianggap sebagai penyerangan atas identitas diri.  Mana ada orang mau dianggap bodoh oleh orang lain?. Contoh lainnnya, ketika ada orang yang mengatakan “sudah berapa kali dikasih tau kamu gak ngerti-ngerti juga” secara sepihak ada orang yang memaknainya sebagai “tulalit amat sih kamu!”.

 

Ketika saya katakan “Kamu bohong ya?” apa yang ada di persepsi Anda?. Kalau Anda merasa dianggap sebagai “Seorang Pembohong”, maka itulah pemaknaan yang salah. Karena pertanyaan “kamu bohong ya?” hanya hanya berlaku dalam satu konteks peristiwa. Lalu mengapa kita memaknainya begitu jauh hingga hingga memberikan arti bahwa orang ini menganggap saya “Pembohong”.

 

Bagaimana agar kita tidak mudah sakit hati dan mendendam. Jawabannya sederhanya. Jangan memberikan makna terlalu dalam atas suatu peristiwa yang Anda alami atau kata-kata yang Anda terima. Kisah Rani yang merasa sedang digunjingkan dan ditertawakan ketika melihat teman-temannya bercanda adalah contoh dimaknainya suatu peristiwa secara subjektif dengan prasangka negatif.

 

Coba bayangkan apabila ada orang Jepang marah-marah pada Anda dengan bahasa Jepang yang anda tidak pahami tentunya, apakah Anda akan merasa sakit hati?. Saya yakin tidak. Karena tidak paham bahasanya Anda tidak memberikan makna apa-apa pada peristiwa itu.

 

Maka lakukan saja hal yang sama atas apa yang kita alami. Hindarkan diri dari memberikan makna berlebihan. Jangan ditambah dengan persepsi negatiif, jangan dibumbui dengan pengalaman buruk masa lalu dan tidak perlu didramatisir. Anggaplah kata-kata hanya sekedar kata-kata. Maka Anda tidak akan menjadi pribadi yang mudah mudah terluka. Seperti apa yang dikatakan oleh Eleanor Roosevelt di atas, anda tidak akan terluka, tidak akan mudah direndahkan oleh orang lain jika diri Anda sendiri memang tidak mengijinkannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *